Krisis Agraria Sumut Menuai Kontravensi Yang Panjang, Pernyataan Kapolri soal pemberantasan Mafia Tanah Jangan Hanya Slogan

  • Bagikan

Hak suara, medan.  setelah penggusuran satu kampung di Menado Provinsi Sulawesi utara oleh sebuah perusahaan pengembang (developer) ciputraland, yang berakibat menghilangkan adat istiadat setempat, kini kembali terjadi di sumatera utara medan, dugaan penguasaan tanah milik adat Sultan Deli sekaligus dugaan  Pengrusakan Rumah Adat Melayu.  dugaan pengambil alihan tanah di manado dengan dengan di medan ini terjadi perbedaan dimana pengambil alihan tanah di manado,  Babinsa setempat membela rakyat sedangkan di sumatera utara justru pengambil alihan dan dugaan pengrusakan tersebut melibatkan atau didukung oknum anggota TNI dan oknum aparat seperi terlihat di dalam video ini  ada yang berbaju dinas TNI dan ada yang berbaju mirip baju kaos yang biasa digunakan oleh “kepolisian”

Atas pengambil alihan tanah dan  dugaan pengrusakan Rumah Adat Melayu tersebut, membuat masyarakat dan beberapa LSM di kota medan sumatera utara melakukan  aksi damai di depan Poldasu Rabu/13-10-2021 jam 11.00 wib, dengan tuntutan “meminta Pelaku kebrutalan kekerasan pengrusakan balio sekretariat bersama mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia serta merobohkan tiang bendera merah putih milik sekber NKRI yg dilakukan   oknum aparat TNI dan oknum aparat yang berbaju kaos mirip baju kaos kepolisian tersebut pada Kamis 7/10/2021 jam 09.00 wib terjadi , untuk ditangkap, dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.

Salah seorang Ahli hukum, di Jakarta, yang tidak bersedia namanya disebut dalam berita ini, kepada wartawan berharap agar pernyataan Kapolri tentang “pemberantasan mafia tanah”, harus direalisasikan dan bentuk tindakan, dan jangan hanya slogan, seperti yang  terjadi di manado sulawesi utara, sudah seharusnya harusnya ditindak developer tersebut yang telah menggusur dan merobah adat istiadat rakyat setempat, demikian juga Pengrusakan Rumah Adat Melayu  yang terjadi di medan sekarang ini harus ditindak  dan dipenjara para oknum tersebut sebab, kalau tidak demikian,  maka masyarakat beranggapan bahwa pernyataan “pemberantasan mafia tanah” bisa bermakna terbalik yaitu untuk menguasai tanah-tanah adat rakyat oleh oknum pemodal dan perusahaan  pengembang atau perusahaan perusahaan lainnya.

Dalam orasinya,Sekber NKRI sebagai sosial kontrol masyarakat, “meminta Tangkap Arifin cs
Sebagai pelaku Pengrusakan Rumah Adat Melayu”. Pada saat orasi mereka diterima oleh AKBP Drs.Benma Sembiring dimana aspirasi tersebut diterima dan akan disampaikan ke Kapoldasu serta akan ditindak lanjuti kasus tersebut.

0/5 (0 Reviews)
  • Bagikan
Exit mobile version