Lagi, Kenaikan BBM Kebijakan Dilematis Pemerintah

lagi,-kenaikan-bbm-kebijakan-dilematis-pemerintah

Liputan4.com Serang- Kabar rencana kenaikan BBM subsidi pekan ini telah membuat masyarakat tercengang, pasalnya isu kenaikan terjadi ditengah-tengah kondisi inflasi dan keadaan ekonomi global yang semakin turun. Alhasil Pro – kontra telah meramaikan ruang publik, diantaranya demontrasi mahasiswa di Jakarta.

Menanggapi isu kenaikan ini, kita mesti tidak hanya melihat dari satu sisi kerugian yang akan dirasakan masyarakat saja paska sah nya kenaikan, sebelum kesana, alangkah baiknya kita melihat apa saja fakta latar belakang rencana kenaikan BBM subsidi.

Dilansir dari Metrotvnews (30/8/2022) Rencana Kenaikan BBM Subsidi diperkirakan akan naik Rp2-Rp3 ribu per-liter, isu kenaikan ini disebabkan harga minyak mentah dunia sampai saat ini semakin naik, diprediksi mencapai USD 105 per barel pada akhir 2022.
Tentu.

Lagi, Kenaikan BBM Kebijakan Dilematis Pemerintah
Penulis : Firmansyah Marghana
Mahasiswa Manajemen Universitas Bina Bangsa

Total subsidi dan kompensasi 2022 BBM jenis solar, Pertalite, dan gas 3Kg mencapai Rp 502,4 Triliun, dengan persentase paling tinggi diduduki subsidi terhadap gas 3Kg sebesar kurang lebih Rp 14.250 atau 77%.

Jika dilihat dari tingginya subsidi dan kompensasi BBM , ini memberikan tanggungan yang sangat besar bagi APBN, bahkan prediksi ketersediaan BBM berakhir pada bulan Oktober 2022. Selain itu, ketidaktepatan sasaran subsidi BBM juga menjadi permasalahan yang berarti, pasalnya 80% BBM subsidi dinikmati oleh rumah tangga mampu atau sangat kaya (Sri Mulyani Indrawati).

Situasi inilah setidaknya telah membuat pemerintah takut akan pembengkakan APBN. Selain itu, pemerintah menilai subsidi BBM seharusnya bisa dialihkan ke pembangunan Sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Namun sudah tepatkah langkah pemerintah menaikan BBM di kuartal III ini? Menjawab persoalan ini banyak faktor yang mesti pemerintah lihat, diantaranya daya beli, ketersediaan logistik, dan inflasi.

Sampai pada kuartal II sebetulnya pertumbuhan ekonomi indonesia semakin menunjukan peningkatan, meskipun ditengah situasi ekonomi dunia yang tidak stabil. Namun kekhwatiran akan penurunan pertumbuhan ekonomi muncul setelah adanya isu kenaikan ini. Bukan hal yang tidak mungkin laju inflasi bisa naik seketika, imbasnya pada daya beli dan ketersediaan logistik.

Prediksi kenaikan inflasi oleh LPEM UI jika Pertalite naik di 2022 sebesar 6%-8% (yoy). Bahkan apabila kondisi ekonomi global belum stabil, ini bisa melebihi inflasi pada Desember 2014 lalu akibat dari kenaikan premium sebesar 30%.

Kenaikan BBM solar, Pertalite, pertamax, dan gas 3Kg secara bersamaan akan berdampak pada konsumsi rumah tangga, pasalnya akan terjadi kenaikan harga pangan, disebabkan naiknya biaya logistik. Lebih dari itu ketersediaan logistik bisa menjadi permasalahan baru yang bisa berakibat pada kelangkaan.

Prediksi redaksi metro Tv 30/8/2022) kenaikan bisa harga pangan bisa mencapai 30% dan konsumsi rumah tangga turun 0,2 – 04%

Pelaku sektor usaha ritel, usaha penyedia makan, hingga transportasi, akan merasakan dampak langsung akibat kenaikan. Seperti meningkatnya harga barang di toko ritel dan ongkos angkutan umum serta ojek online. Ini berakibat ke perputaran ekonomi masyarakat luas.

Sebetulnya, dalam persoalan ini pemerintah telah membuat rancangan/strategi dalam upaya meminimalisir dampak kenaikan, yaitu dengan mengalihkan subsidi ke bantuan sosial (bansos) sebesar Rp 24,17 Triliun. Bansos juga dinilai langkah baru terhadap penggunaan BBM subsidi tepat sasaran akibat kurang maksimalnya program Pertamina.

Ada 3 kelompok yang mendapatkan bansos diantarany 20,65 juta keluarga, 16 juta pekerja, dan subsidi transportasi umum.

Namun sudah tepatkah pengalihan subsidi ini? Sebetulnya program bansos ini akan lebih besar menyasar pada masyarakat kurang mampu, artinya para pelaku usaha seperti ritel dan transportasi akan tetap berdampak. Tentu prediksi ini melihat pertimbangan laju ekonomi perkotaan dan kondisi ekonomi di daerah hingga pelosok, sehingga efek domino bisa saja terjadi.

Solusi yang bisa dilakukan pemerintah dengan mensubsidi pelaku UMKM, transportasi, dan kenaikan Upah minimum di seluruh daerah. Sehingga hal seperti daya beli dan inflasi bisa diminimalisir.

Kondisi ini telah memberikan dilematis terhadap pemerintah, kebijakan yang tepat menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi ditengah naiknya harga minyak mentah dunia. Tentu yang diharapkan pemerintah bisa menaikan harga yang tidak begitu tinggi, sehingga masyarakat tidak merasakan shock efek dan guncangan ekonomi akibat kenaikan BBM.

Kebijaksanaan pemerintah dalam menentukan kenaikan harga BBM, kini sangat dinantikan masyarakat. Diharapkan harga baru tersebut tidak terlalu rendah agar menyelesaikan akar permasalahan, dan tidak terlalu tinggi dari nilai keekonomian di indonesia, sehingga kedepannya beban masyarakat tidak menjadi terlalu besar dan inflasi juga tidak melonjak tajam (M. Khadafi)
(Rd)

Berita dengan Judul: Lagi, Kenaikan BBM Kebijakan Dilematis Pemerintah pertama kali terbit di: Berita Terkini, Kabar Terbaru Indonesia – Liputan4.com. oleh Reporter : L4Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *