DARI “REVOLUSI MENTAL” HINGGA INDONESIA HEBAT

HAK SUARA

Oleh :Ir. Agam Kristianus Zebua

DARI “REVOLUSI MENTAL” HINGGA INDONESIA HEBAT

DARI “REVOLUSI MENTAL” HINGGA INDONESIA  HEBAT

Hak Suara,

SLOGAN “Revolusi Mental” yang dicetuskan dalam Salam 2 Jari Timses Kampanye  Capres-capres  Jokowidodo-JK Bulan April  20014 yang lalu akhirya berbuah manis dengan kan Pelantikan Bapak Ir. Jokowidodo dan Bapak Drs. H. Jusuf Kalla menjadi Presiden dan Wakil Presiden (Wapres RI) yang ke tujuh pada 21 Oktober yang lalu. Maka tak dapat dipungkiri bahwa kampanye hitam (black compaign) yang sempat mendiskreditkan pasangan pemimpin rakyat ini bahkan terbitnya tabloid “ OBOR RAKYAT” yang menyita perhatian public tersebut dapat  ditepis meleluai berbagai acara kampanye maupun debat “ Capres-capres” yang  diselenggarakan oleh KPU bekerja sama dengan pihak media televise swasta.

 

Memperhatikan fenomena yang terjadi tersebut,agaknya kita perlu pula mengingat pesan Pemimpin besar kita “The Founding Father” dan Proklamator RI yaitu Bung Karno yang pernah menyampaikan semacam “wasiat” tentang beberapa macam krisis yang dapat “mematisurikan” perkembangan demokrasi direpublik ini, yaitu.

 

Pertama : Krisis kewibawaan otoritas yang disebut “Gejang” yang saat ini sedang melanda dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa, mislanya : Korupsi di birokrasi pemerintahan, maupun di parlemen yang semakin “membudaya” terus menerus menggerogoti sebdi-sendi keutuhan  berbangsa dan bernegara.

 

Kedua  : Krisis alat- alat kekuasaan Negara yang mengakibatkan ketidak harmonisan elemen aparatur Negara, mislanya: pernah terjadi perseteruan antara Polri, KPK dan Kejaksaan yang memunculkan istilah “  CIcak dan Budaya”  pada masa pemerintahan yang lalu.

 

Ketiga  : Krisi cara berpikir dan cara meninjau seperti  kerusuhan dalam persidangn akibat perdebatan antara penafsir dengan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai pemelihara konstitusi. Opini  public yang terlanjur tidak percaya kepada MK malahn diaktulisasikan dalam bentuk kekerasan.

 

Keempat : Krisis moral yang kini sangat nyata terlihat dan dirasakan terlebih-lebih terhadap aparatur Negara  terutama para pejabat bahkan melanda aparat penegak hokum sehingga begitu sulitnya mewujudkan supremasi hukum yang dibaratkan seperti menegakkan benang basah.

 

Ironisnya, keempat krisis yang disampaikan Presiden pertama RI tersebut justru telah bahkan sedang di masa sekarang ini yang menunjukkan semakin turunnya derajat demokrasi kita akhir-akhir ini sehingga semakin mendukung sikap apatisme bahkan anarkismen politik rakyat dalam kondisi “nisbi” berdemokrasi.

 

Maka wajarlah, apabila menuju bangsa yang besar menjadi “INDONESIA HEBAT” yang berkembangan maju,  kitapun harus dan bersatu serta penuh bijaksana dalam menghadapi sekaligus menanggulangi berbagi krisis tersebut. Namun yang paling utama adalah kita harus bekerja keras kembali untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang semata-mata bukanlah jatuh secara gratis dari langi melainkan kristalisasi keringat, sekaligus menanamkan opitimisme yang tinggi dengan melakukan perbaikan-perbaikan untuk pembenahan sebagaimana “TRI PROGRAM” Pembangunan dalam Pemerintahan Jokowi- JK yaitu.

 

Kedaulatan Politik diwujundkan

Kemandirian Ekonomi yang realistic (nyata)

Berkepribadian dalam Budaya. (Agam Zebua)

0 Komentar

Tulis Komentar